Konteks
Kliennya sekelompok mahasiswa yang sedang menjalankan ide usaha sendiri. Itu menentukan hampir setiap keputusan teknis di bawah: anggarannya kecil, belum ada badan usaha yang bisa didaftarkan ke mana-mana, dan yang dibutuhkan adalah sesuatu yang bisa mulai berjualan minggu depan, bukan yang siap menampung sepuluh ribu pesanan sehari.
Bahan masakan dibeli dengan cara mendatanginya. Sayur, buah, bumbu — semuanya menuntut perjalanan ke pasar, di jam ketika pasar masih punya barang yang layak, oleh orang yang bisa menilai mana yang layak.
Itu bukan proses yang rusak. Itu proses yang berjalan selama puluhan tahun, dan untuk sebagian orang masih cara terbaik. Yang berubah adalah siapa yang bisa menjalaninya: pembeli yang jam kerjanya bentrok dengan jam pasar, atau yang tidak punya cara mengangkut belanjaan, tidak punya jalan masuk sama sekali.
Kategori itulah yang dilayani aplikasi ini — bukan menggantikan pasar, tapi memberi pintu kedua bagi yang tidak bisa lewat pintu pertama.
Yang dikerjakan
- Katalog produk — bahan masakan, sayur, buah — dengan harga dan ketersediaan yang diurus dari satu tempat
- Keranjang dan checkout yang merangkum pesanan beserta totalnya
- CRM untuk mengelola produk, voucher, dan status pesanan
- Pelatihan pengelola untuk mengunggah dan memperbarui produk
Keputusan penting
Checkout berakhir di WhatsApp, bukan di gerbang pembayaran
Alur pemesanan sengaja tidak diakhiri dengan pembayaran daring. Checkout menyusun daftar belanja beserta totalnya menjadi satu pesan yang tinggal dikirim ke admin lewat WhatsApp.
Gerbang pembayaran menuntut hal-hal yang belum dimiliki usaha yang baru mau mulai: badan usaha untuk didaftarkan sebagai merchant, potongan per transaksi yang menggerus margin bahan pangan, dan penyelesaian sengketa yang harus ditangani sendiri. Sementara percakapan adalah bagian yang sudah berjalan — pembeli sudah terbiasa memesan lewat WhatsApp, dan penjual sudah ada di sana sepanjang hari.
Bahan pangan juga barang yang sering perlu dibicarakan sebelum dibayar: stok habis, ukuran diganti, jumlah dibulatkan. Menutup pesanan dengan pembayaran lebih dulu berarti membangun alur pengembalian dana untuk hal yang bisa diselesaikan dalam satu pesan.
Status pesanan bisa dilihat pembeli, bukan hanya pengelola
Pesanan masuk lewat WhatsApp, tapi perjalanannya tidak tinggal di sana. Pembeli punya akun sendiri: mereka masuk, dan riwayat pesanan beserta statusnya ada di sana. Pengelola memperbaruinya dari CRM, pembeli membacanya tanpa perlu bertanya.
Ini yang membuat keputusan sebelumnya tidak berakhir setengah jalan. Memindahkan pemesanan ke percakapan itu murah, tapi kalau statusnya ikut tinggal di sana juga, setiap pertanyaan "pesanan saya sudah dikirim belum?" kembali jadi percakapan baru — dan pertanyaan susulan itulah yang paling banyak memakan waktu pengelola, bukan pesanannya sendiri. Pesanan lewat WhatsApp, status lewat sistem.
Voucher dicatat di dalam sistem sejak awal
Voucher biasanya ditunda sampai "nanti kalau sudah ramai", lalu dicatat di luar sistem ketika akhirnya dipakai. Akibatnya diskon yang sudah diberikan tidak pernah bisa dicocokkan dengan penjualan yang dihasilkannya, dan tidak ada cara mengetahui mana promo yang benar-benar bekerja.
